pembahasan kimia air

28 Dec

BAB IV

DATA DAN PEMBAHASAN

A. SAMPLING
Sampling dilakukan dengan tehnik sampling sesaat (Grab Sampling). Kegiatan sampling dilakukan pada:
Hari, tanggal : Selasa, 17 Maret 2009
Waktu : 16.30 WIB
Lokasi sampling : Air kran
Cara Sampling :
1. Air dialirkan melalui kran air selama beberapa menit.
2. Setelah beberapa menit air dibiarkan mengalir, kemudian air langsung ditampung pada dirigen yang bersih.
3. Dirigen ditutup, kemudian sampel Air siap dianalisa di Laboratorium.

B. PARAMETER FISIKA
1. Bau dan Warna
Bau: Tidak Berbau
Warna: Tidak Berwarna
Pembahasan :
a. Pengamatan bau dan warna harus langsung dari tempat penyamplingan karena pengamatan warna menggunakan indra (penciuman & pengelihatan) langsung.
b. Pengamatan bau dan warna tidak mutlak benar karena setiap orang memiliki parameternya masing-masing sehingga ketika pengamatan setidaknya harus ada lebih dari satu orang sehingga kesalahan pengamatan dapat dikurangi.
c. Pengamatan bau dan warna tidak dapat diamati oleh orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan pada indra penciuman dan pengelihatannya.
2. pH
Pada penetapan pH dengan menggunakan metode potensiometri menggunakan pH meter didapatkan hasil 7,44
Pembahasan :
a. Pengamatan pH menggunakan alat pH meter, sehingga alat tersebut harus dikalibrasi terlebih dahulu agar didapatkan hasil pengukuran yang benar.
b. Cara mengkalibrasi pH meter adalah dengan memasukkan elektroda ke dalam larutan asam yang sudah diketahui pHnya (misalkan pH 4) kemudian set pada pH 4, lalu bilas elektroda dengan aqudest dan keringkan dengan tissue, lalu lakukan hal yang sama pada larutan basa (misalkan pH 10) lalu set pada pH 10. Alat pH meter sudah siap digunakan dan jangan dimatikan bila sudah mengukur sampel karena bila dimatikan alat harus dikalibrasi ulang.

3. DHL (Daya Hantar Listrik)
Pada penetapan DHL (Daya Hantar Listrik) dengan metode konduktometri didapatkan hasil 14,55 μS/cm
Pembahasan :
a. Pengamatan DHL menggunakan alat konduktometer, sehingga alat tersebut harus dikalibrasi terlebih dahulu agar didapatkan hasil pengukuran yang benar.
b. Cara mengkalibrasi konduktometer adalah dengan memasukkan elektroda ke dalam larutan KCl 0,0100 M dan set pada 1413 Mikro mho/cm pada suhu 250C.

4. Kekeruhan (Turbidity)
Pada penetapan Kekeruhan (Turbidity) dengan menggunakan Turbidimeter didapatkan hasil 0.70 NTU.

5. Temperatur
Penetapan temperatut menggunakan Termometer didapatkan hasil 240C.

C. PARAMETER KIMIA:
1. Penetapan Asiditas/Alkalinitas
Reaksi :
Tahap I : CO2 + OH- HCO3-
HCO3- + OH- /
Tahap II: HCO3- + H+ H2CO3

Perhitungan :
Tabel Titrasi Asiditas:
Penentuan HCl HCl
Titrasi Ke 1 (mL) 2 (mL) 1 (mL) 2 (mL)

Vakhir 0,32 0,30 5,40 5,40
Vawal 0,00 0,00 0,00 0,00
Pemakaian 0,32 0,30 5,40 5,40
Warna hasil Ros pucat Jingga merah

Karena volume NaOH < volume HCl maka air tersebut mengandung CO2 dan HCO3-
[ NaOH ] : 0.0978 N
[ HCl ] : 0.1046 N
Vsampel : 100 ml
I. CO2 : 1000 x 0.32 mL x 0.0978 N x 44
100
CO2 : 13.7702 mg/L
HCO3- : 1000 [( 5.40 mL x 0.1046 N) x ( 0.32 mL x 0.0978 N) x 61 ]
100
HCO3- : 10.7837 mg/L
II. CO2 : 1000 x 0.30 mL x 0.0978 N x 44
100
CO2 : 12.9096 mg/L
HCO3- : 1000 [( 5.40 mL x 0.1046 N) x ( 0.30 mL x 0.0978 N) x 61 ]
100
HCO3- : 10.0947 mg/L
Pembahasan :
 Untuk penentuan asiditas/alkalinitas, pada percobaan kali ini yang dilakukan adalah penetapan asiditas, karena pada saat ditambahkan indikator Fenolphtalein 10 tetes ke dalam sampel (10 mL) warna sampel tidak berubah menjadi rose pucat
 Karena Volume HCl > NaOH maka kemungkinan reaksi yang terjadi pada asiditas adalah menghasilkan CO2 dan HCO3- maka pada perhitungan digunakan mek CO2 dan HCO3- untuk menentukan asiditasnya

2. Kesadahan (Total, Tetap, Sementara)
Reaksi Kesadahan total :
Ca2+ + HInd2- CaInd- + H+
Mg2+ + HInd2- MgInd- + H+

Ca2+ + H2Y2- CaY2- + 2H+
Mg2+bebas + H2Y2- MgY2- + 2H+
MgInd- + H2Y2- MgY2- + Hind2- + H+
merah anggur biru jelas

Perhitungan :
Tabel Titrasi Kesadahan :
Penentuan Kesadahan Total Kesadahan Tetap
Titrasi Ke 1 (mL) 2 (mL) 1 (mL) 2 (mL)
Vakhir 12.45 12.42 10.02 10.00

Vawal 0.00 0.00 0.00 0.00
Pemakaian 12.45 12.42 10.02 10.00
Warna Hasil Biru

Pehitungan :
Kesadahan total 1 : 1000 x vol EDTA x [EDTA] x Mr CaO
100
: 1000 x 12.45 mL x 0.0188 N x 56 mg/L
100
: 131.0736 mg CaO/L
Kesadahan total 2 : 1000 x 12.42 mL x 0.0188 N x 56 mg/L
100
: 130.7578 mg CaO/L
Rata-rata : 131.0736 mg CaO/L + 130.7578 mg CaO/L
2
: 130.9157 mg CaO/L
Reaksi Kesadahan tetap :
Ca(HCO3)2 (Panas) CaCO3 (s) + H2O + CO2
Mg(HCO3)2 (Panas) Mg(OH)2 (s) + CO2

Ca2+ + HInd2- CaInd- + H+
Mg2+ + HInd2- MgInd- + H+
Ca2+ + H2Y2- CaY2- + 2H+
Mg2+bebas + H2Y2- MgY2- + 2H+
MgInd- + H2Y2- MgY2- + Hind2- + H+
merah anggur biru jelas
Perhitungan :
Kesadahan tetap 1 : 1000 x vol EDTA x [EDTA] x Mr CaO
100
:1000 x 10.02 mL x 0.0188 N x 56 mg/L
100
: 105.4906 mg CaO/L
Kesadahan tetap 2 :1000 x 10.00 mL x 0.0188 N x 56 mg/L
100
: 105.2800 mg CaO/L

Rata-rata : 105.4906 mg CaO/L + 105.2800 mg CaO/L
2
: 105. 3853 mg CaO/L
Kesadahan Sementara :
Ksementara = Ktotal – Ktetap
= 130.9157 mg CaO/L – 105.3853 mg CaO/L
= 25.5304 mg CaO/L
Ket : K = Kesadahan

Pembahasan :
a. Fungsi pemanasan pada saat penetapan kesadahan tetap adalah untuk menghilangkan kesadahan sementara, karena CO2 akan keluar meniggalkan garam karbonat yang tidak larut (mengendap).
b. Nilai kesadahan diubah ke dalam derajat kesadahan Jerman(0D),karena derajat kesadahan Jerman yang dipakai sebagai standar ukuran kesadahan di Indonesia. 10D(Jerman) = 10 mg CaO/L
c. Fungsi larutan buffer pada saat penetapan adalah untuk menjaga pH agar tetap stabil pada kisaran pH 10, karena perubahan warna indikator EBT berada pada kisaran pH 10.

3. Penetapan Ca dan Mg
Reaksi :
Mg2+ + OH- Mg(OH)2 (s)
Ca2+ + H2Ind3- CaInd3- + 2 H+
Ca2+bebas + H2Y2- CaY2- + 2 H+
CaInd3- + H2Y2- CaY2- + H2Ind3-
merah ungu – biru

Perhitungan :
Tabel Titrasi Ca :
Titrasi Ke 1 (mL) 2 (mL)
Vakhir 8.08 8.02
Vawal 0.00 0.00

Pemakaian 8.08 8.02
Warna hasil Ungu

Pehitungan :
Penetapan CaO 1 :1000 x vol EDTA x [EDTA] x Mr CaO
100
:1000 x 8.08 mL x 0.0188 N x 56 mg/L
100
: 85.0662 mg CaO/L
Penetapan CaO 2 :1000 x 8.02 mL x 0.0188 N x 56 mg/L
100
: 84.4346 mg CaO/L
Rata-rata : 85.0662 mg CaO/L + 84.4346 mg CaO/L
2
: 84. 7504 mg CaO/L

Penetapan Mg :
Ktotal = Ca + Mg
Mg = Ktotal – Ca
= 130.9157 – 84. 7504 mg CaO/L
= 46.1653 mg CaO/L

Pembahasan :
a. Fungsi penambahan larutan NaOH 3 N adalah untuk menaikan pH menjadi basa, karena perubahan warna indikator murexside adalah pada pH>11.
b. Kadar Mg ditentukan secara tidak langsung yaitu dengan cara mengurangi nilai kesadahan total dengan kesadahan Ca, karena di dalam sampel air jika ditentukan dengan menggunakan metode kompleksometri menggunakan indikator murexide kesadahan yang dapat teramati/terukur adalah kesadahan Ca dan Mg, sehingga untuk menghemat penggunaan larutan dan biaya serta mengefektifkan waktu kadar Mg ditentukan secara tidak langsung.

4. Penetapan Dissolved Oksigen (DO)
Reaksi :
MnSO4 + 2KOH Mn(OH)2 + K2SO4
Mn(OH)2 + ½ O2 MnO2 + H2O
MnO2 + 2I- + 4H+ Mn2+ + I2 + 2H2O
I2 + 2S2O32- S4O62- + 2I-
Perhitungan :
Tabel Titrasi DO :
Endapan:
Titrasi Ke 1 (mL) 2(mL)

Vakhir 10.88 10.90
Vawal 0.00 0.00
Pemakaian 10.88 10.90
Warna hasil Biru tepat menghilang

Perhitungan:
Mg O2 = Vs2o32- x [ s2o32- ] x BE O2
= 10.88 mL x 0.0245 N x 8
= 2.1325 mg
ppm O2 = 1000 x mg O2
(Vtot -4)ml

ppm O2 = 1000 x 2.1325 mg
(280-4)ml
= 7.73 ppm
Mg O2 = Vs2o32- x [ s2o32- ] x BE O2
= 10.90 mL x 0.0245 N x 8
= 2.1364 mg
ppm O2 = 1000 x mg O2
(Vtot -4)ml
ppm O2 = 1000 x 2.1364 mg
(280-4)ml
= 7.72 ppm

Pembahasan :
1. Berat O2 diperoleh hasilnya 8 yaitu dari ( x Mr O2), sedangkan diperoleh dari reaksi O2 yang melibatkan 4e-, sesuai persamaan reaksi : O2 + 4H+ + 4e- 2H2O
2. Volume Elemeyer berasah harus ditera terlebih dahulu, tujuannya untuk mengetahui dengan pasti volume sampel yang mampu ditampungnya, karena Vsampel akan diikutkan dalam perhitungan
3. Volume sampel dalam elemeyer dikurangi 4, angka 4 didapat dari 2 mL MnSO4 dan 2 mL alkali yodida azida.
4. Penambahna pereaksi MnSO4 dan Alkali yodida azida harus dari dasar, agar pereaksi tersebut tidak keluar dan sampel airlah yang keluar dari elemeyer.
5. Pereaksi Alkali yodida azida beracun sehingga pemipetannya harus menggunakan Filler.
6. Pereaksi Alkali yodida azida berfungsi sebagai katalisator, karena zat organik sangat sukar bereaksi. Kalau MnSO4 berfungsi untuk mengikat oksigen menjadi Mn(OH)2 yang kemudian akan teroksidasi menjadi MnO2 berhidrat.
5. Penetapan Chemical Oxygen Demand
Reaksi :
Pada Saat Refluks :
Zat Organik + Cr2O72-berlebih Cr2O72-sisa + 2 Cr3+ + H2O + CO2

Pada Saat Titrasi :
Cr2O72-sisa + 6 I- + 14 H+ 2 Cr3+ + 3 I2(terbentuk) + 7 H2O
I2(terbentuk) + 2 S2O32- 2 I- + S4O62-

Tabel Titrasi COD:
Titrasi Ke 1 (mL) Blanko
Vakhir 26.47 29.25
Vawal 0.00 0.00
Pemakaian 26.47 29.25
Warna hasil Merah kebiruan

Perhitungan :
[FAS] : 0.1000 N
V sampel :50 ml
COD : ( V blanko – V titrasi ) [ FAS ] x 8000
V sampel
: ( 29.25 – 26.47 )mL x 0.1000 N x 8000 – (0.23 x 15.98)ppm
50 ml
: 44.48 ppm – 3.68 ppm
: 40.8 ppm

Pembahasan :
a. Klorida (≥2000 ppm) dapat mengganggu fungsi katalisator dari Ag2SO4, pada keadaan tertentu turut teroksidasi oleh dikromat maka dihilangkan dengan menambahkan HgSO4
b. Nitrit teroksidasi oleh dikromat menjadi nitrat maka dihilangkan dengan penambahan asam sulfamat
c. Sulfit, teroksidasi oleh dikromat menjadi sulfat maka dihilangkan dengan penambahan asam sulfamat

6. Penetapan Zat Organik (ZO)
Reaksi :
ZO + KMnO4 (berlebih) ZOteroksidasi + Mn2+ + KMnO4 (sisa)
KMnO4 (sisa) + H2C2O4(berlebih) + 16 H+ 10 CO2 + 2 Mn2+ + 8H2O + H2C2O4(sisa)
H2C2O4(sisa) + KMnO4 + 16 H+ 10 CO2 + 2 Mn2+ + 8 H2O

Perhitungan :
Tabel Titrasi ZO :
Titrasi Ke 1 (mL) 2 (mL)
Vakhir 2.67 2.65

Vawal 0.00 0.00
Pemakaian 2.67 2.65
Warna hasil Merah sangat muda

mek ZO 1 = mek (KMnO4 total) – H2C2O4)
= (V x N) KMnO4 (pereaksi + titrasi) – (V x N) H2C2O4
= {(10 + 2.67 )mL x (0.0100 N}} – {10 mL x (0,0098 N)}
= 0,1267 – 0,098 mek
= 0.0287 mek
Berat ZO = mek ZO x BE KMnO4
= 0.0287 x 31,58
= 0.90635 mg
kadar ZO =
= 0.90635 mg
0.1 L
= 9.0635 ppm

mek ZO 2 = mek (KMnO4 total) – H2C2O4)
= (V x N) KMnO4 (pereaksi + titrasi) – (V x N) H2C2O4
= {(10 + 2.65 )mL x (0.0100 N}} – {10 mL x (0,0098 N)}
= 0,1265 – 0,098 mek
= 0.0285 mek
Berat ZO = mek ZO x BE KMnO4
= 0.0285 x 31,58
= 0.90006 mg
kadar ZO =
= 0.90006 mg
0.1 L
= 9.0006 ppm
Pembahasan :
a. Penambahan 10 mL KMnO4 pertama berfungsi untuk mereaksikan sampel air (zat organiknya) dengan KMnO4 yang kemudian sisanya akan direaksikan dengan H2C2O4. Kemudian kelebihan H2C2O4 akan dititrasi dengan KMnO4 standar dan akhirnya dapat diketahui kadar zat organiknya.
b. Penetapan zat organik sangat ditentukan dengan kadar klorida, karena jika kadar Cl- 300 ppm maka penetapan kadar zat organik harus secara basa, pada penetapan kali ini kami memakai cara asam, karena setelah dilakukan penetapan klorida didapatkan kadarnya sebesar 15.98 ppm (Cl- < 300).

7. Penetapan Besi (Fe)
Reaksi :
Fe2+ + Br2 Fe3+ + ē
Fe3+ + SCN- [ Fe(SCN)]2+

[ Fe(SCN)2]+
[ Fe(SCN)3] (aq)
[ Fe(SCN)6]3-
merah darah

Perhitungan :
Dik :
[standar] = 0,2 ppm
tinggi standar = 23.60 cm
tinggi sampel = 24.80 cm
Dit [sampel]?
Jwb :
hstd x [std] = hspl x [spl]
[sampel] =
= 23.60 cm x 0.2 ppm
24.80 cm
= 0.1903 ppm
Pembahasan :
a. Pada faktor pengenceran diperoleh nilai 4, nilai tersebut diperoleh dari: Volume sampel yang sudah ditambahkan pereaksi(100 mL) dipipet 25 mL 100 mL
b. Fungsi air Brom adalah untuk mengoksidasi ferro menjadi ferri sehingga di dalam sampel air hanya ada ferri sehingga kadar besi dapat ditetapkan.
c. Ferro diubah menjadi ferri, karena ferro mudah teroksidasi dalam air menjadi ferri, sehingga apabila ferro tidak diubah ke dalam ferri maka kadar besi pasti tidak ekivalen dengan kadar besi sesungguhnya dalam sampel air.

8. Penetapan Mn
Reaksi :
Mn2+ + 5 H2O MnO2. 3 H2O + 4 H+ + 2e-
2 Mn2+ + 5 S2O82- + 8 H2O 2 MnO4- + 10 SO42- + 16H+

Perhitungan :
Dik :
[standar] = 0.2 ppm
tinggi standar = 22.9 cm
tinggi sampel = 20.8 cm
Dit : [sampel] ?
Jwb :
hstd x [std] = hspl x [spl]
[sampel] =
= 22.9 cm x 0.2 ppm
20.8 cm
= 0.2202 ppm
Pembahasan :
a. Fungsi penambahan AgNO3 dan HNO3 adalah untuk mengendapkan ion Cl- yang terdapat dalam air, karena ion Cl- dapat bereaksi dengan ion MnO4-, sehingga kadar mangan dalam sampel air menjadi berkurang sehingga penetapan menjadi tidak benar.
b. Mangan dalam air dioksidasi menjadi ion MnO4- oleh kalium persulfat, sehingga mangan menjadi senyawa berwarna dan dapat ditentukan kadarnya dengan menggunakan standar KmnO4.

9. Penetapan Klorida (Cl-)
Reaksi :
Cl- (aq) + AgNO3(aq) AgCl(s) + NO3-(aq)
CrO42-(aq) + 2 AgNO3(aq) Ag2CrO4(s) + 2 NO3-(aq)
Endapan merah bata
Tabel Titrasi Klorida (Cl-) :
Titrasi Ke 1 (mL) 2 (mL)
Vakhir 1.79 1.87
Vawal 0.00 0.00
Pemakaian 1.79 1.87
Warna hasil Merah coklat

Perhitungan :
mek Cl- 1 = mek AgNO3
= Vx N
= 1.79 mL x 0.0246 N
= 0.0440 mek
Berat Cl- = mek Cl- x BE Cl-
= 0.0440 x 35,5
= 1.56321 mg
Kadar Cl- 1 =
=1.56321 mg
0.1 L
= 15.6321 ppm
mek Cl- 2 = mek AgNO3
= Vx N
= 1.87 mL x 0.0246 N
= 0.0460 mek
Berat Cl- = mek Cl- x BE Cl-
= 0.0460 x 35,5
= 1.63307 mg
Kadar Cl- 1 =
=1.63307 mg = 16.3307 ppm
0.1 L

Pembahasan :
a. Penambahan MgO pada saat percobaan adalah untuk merubah warna dari kuning jingga menjadi kuning jelas. Penambahan ini dilakukan untuk mempermudah dalam melihat perubahan endapan pada saat titik akhir.
b. Aquadest yang digunakan harus terlebih dahulu di cek terhadap klorida agar tidak terjadi penambahan kadar klorida dari aquadest yang menyebabkan sampel air tidak ekivalen dengan AgNO3. Cara mengeceknya adalah dengan mengambil beberapa mL aquadest kemudian tambahkan ke dalamnya Ba(OH)2 jika terbentuk endapan putih maka aquadest tak layak pakai.

10. Penetapan Nitrit (NO2-)
Reaksi :
NH2 N=N+

+ HNO2 + + H2O

SO3H SO3H NH2

HSO3 N=N NH2

Merah
Perhitungan :
Dik :
B.standar : 22.1 cm C.standar : 0.01 ppm
B.sampel : 14.3 cm
C.sampel : C.standar x B.standar : 0.01 ppm x 22.1 cm : 0.1550 ppm
B.sampel 14.3 cm

Pembahasan :
Pada saat penetapan Nitrit kami mendapatkan warna sampel yang tidak berubah menjadi merah setelah sehingga kami langsung mengamati dengan standar tetapi tidak dapat diamati dengan jelas karena perbedaan warna (warna sampel = putih dan warna standar = merah), maka kami meyimpulkan nilai nitrit = 0,00 (kemungkinan ada dalam sampel tetapi nilainya sangat sedikit).

11. Penetapan Nitrat (NO3-)
Reaksi :
Tahap Preparasi :
2 Al + 6 NaOH → 2 Na3AlO3 + 3 H2
NO3 – + 4 H2 → NH3 + OH- + 2 H2O
NO2- + 3 H2 → NH3 + OH- + H2O
NH3 + H2O → NH4OH

Tahap Pengamatan :
NH4+ + 2 [HgI4]2- + 4 OH- → HgO.Hg ( NH2 )I (s) + I- + 3 H2O
End.terdispersi kuning

Perhitungan :
Dik : [standar] = 0.3 ppm
tinggi standar = 21.00 cm
tinggi sampel = 21.9 cm
Dit : [sampel ]?
Jwb :
hstd x [std] = hspl x [spl]
[sampel] =
= 21.00 cm x 0.3 ppm
21.9 cm
= 0.2287 ppm / 0.29 ppm

NH4+ dari NO2- = Mr NH4+ x ppm NO2- = 18 x 0.16 ppm
Mr NO2- 46
= 0.0626 ppm

NO3- dalam bentuk Ammonium :
[NO3-] = [NH4+ total] – ([NO2-] + [NH4+bebas])
= 0.29 ppm – (0,0626 ppm + 0,1824 ppm)
= 0,0450 ppm
NO3- Murni :
NO3- = x ppm NO3- dalam
bentuk NH4+
= 62 x 0.0450 ppm
18
= 0.1550 ppm / 0.16 ppm
Pembahasan :
a. Penetapan nitrat digunakan cara yang sama dengan penetapan ammonium, karena nitrat diukur dalam bentuk ammonium dan untuk menghitung nitrat murni dapat digunakan faktor dan dikalikan kadar nitrat dalam bentuk ammonium.
b. Penetapan nitrat harus didiamkan selama satu hari dengan rangakaian alat seperti gambar 3.2.12a hal ini bertujuan untuk mengoksidasi nitrat menjadi ammonium oleh gas hidrogen agar berlangsung secara sempurna
c. Fungsi garam siegnete adalah untuk menahan pH agar warna yang ditimbulkan oleh pereaksi nessler tetap stabil.

12. Penetapan NH4+ (Bebas dan Protein)
Reaksi :
NH4+ bebas :
NH4+ + 2 [HgI4]2- + 4 OH- → HgO.Hg ( NH2 )I (s) + I- + 3 H2O
End.terdispersi kuning
NH3 – Protein :
O

R-CH-C-OH + S2O82- → CO2 + H2O + NH4+ + SO42-

NH2

Perhitungan :
Dik :
[standar] = 0.15 ppm
tinggi standar = 22.5 cm
tinggi sampel = 18.5 cm
hstd x [std] = hspl x [spl]
[sampel] =
= 22.5 cm x 0.15 ppm
18.5 cm
= 0.1824 ppm
NH3 – Protein :
Dik :
[standar] = 0.05 ppm
tinggi standar = 23.1 cm
tinggi sampel = 8.4 cm
hstd x [std] = hspl x [spl]
[sampel] =
= 23.1 cm x 0.05 ppm
8.4 cm
= 1.3750 ppm
[ sampel ] = 100 x 1.3750 ppm
50
= 2.75 ppm
NH3 – Protein = [sampel] – [NH4+ Bebas]
= (2.75 – 0.1824) ppm
= 2.0879 ppm
Pembahasan :
a. Pada penetapan ammonium bebas sebelum ditambahkan pereaksi nessler harus ditambahkan perekasi Zn(CH3COO)2 yang berfungsi untuk mengendapan ion sulfida menjadi ZnS, saring filtratnya. Kemudian tambahkan NaOH dan Na2CO3 untuk mengendapkan Ca dan Mg saring filtratnya. Kemudian tambahkan tawas untuk menjernihkan air.
b. Pada penetapan ammonium proteid ditambahkan kalium per sulfat yang berfungasi untuk mendegradasi protein yang terdapat dalam sampel air.
c. Sampel air yang diteliti ternyata mengandung NH4+ padahal seharusnya air tidak boleh mengandung NH4+ ( harus nol ). Hal ini disebabkan karena air tersebut kemungkinan telah tercemar oleh kotoran ataupun urine baik itu yang berasal dari manusia maupun dari hewan.
Selain itu juga disebabkan oleh tingginya kandungan zat organic dalam sampel sehingga menyebabkan terjadinya dekomposisi zat organic oleh mikroorganisme. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
C,H,O,N,S + O2  CO2 + H2O + NH3
Tingginya kandungan besi dan kandungan klorida dalam air juga dapat menyebabkan tingginya kandungan ammonium dalam air. Hal ini dikarenakan besi dalam air tersebut bereaksi dengan ion klorida membentuk FeCl3 yang berwarna coklat. Hal ini akan mengganggu pengamatan saat penentuan kadar ammonium karena ammmonium dalam air tersebut direaksikan dengan persulfat membentuk senyawa yang berwarna coklat juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: