lampiran laporan kimia air parameter air bersih menurut peraturan pemerintah

28 Dec

LAMPIRAN
 Parameter Air Bersih
Menurut (Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 1990
No Parameter Satuan Kadar Maksimum
Golongan A Golongan B Golongan C Golongan D
FISIKA
1 Bau – – – – –
2 Jumlah zat padat terlarut Mg/L 1000 1000 1000 1000
3 Kekeruhan Skala NTU 5
4 Rasa –
5 Warna Skala TCU 15
6 Suhu oC Suhu udara
7 Daya Hantar Listrik Umhos/cm 2250

KIMIA anorganik
1 Air raksa Mg/lt 0.001 0.001 0.002 0.005
2 Aluminium Mg/lt 0.2 –
3 Arsen Mg/lt 0.005 0.05 1 1
4 Barium Mg/lt 1 1
5 Besi Mg/lt 0.3 5
6 Florida Mg/lt 0.5 1.5 1.5
7 Kadmium Mg/lt 0.005 0.01 0.01 0.01
8 Kesadahan CaCO3 Mg/lt 500
9 Klorida Mg/lt 250 600 0.003
10 Kromium valensi 6 Mg/lt 0.005 0.05 0.05 1
11 Mangan Mg/lt 0.1 0.5 2
12 Natriun Mg/lt 200 60
13 Nitrat sebagai N Mg/lt 10 10
14 Nitrit sebagai N Mg/lt 1.0 1 0.06
15 Perak Mg/lt 0.05
16 .pH 6.5 – 8.5 5 – 9 6 – 9 5 – 9
17 Selenium Mg/lt 0.01 0.01 0.05 0.05
18 Seng Mg/lt 5 5 0.02 2
19 Sianida Mg/lt 0.1 0.1 0.02
20 Sulfat Mg/lt 400 400
21 Sulfida sebagao H2S Mg/lt 0.05 0.1 0.002
22 Tembaga Mg/lt 1.0 1 0.02 0.1
23 Timbal Mg/lt 0.05 0.01 0.03 1
24 Oksigen terlarut (DO) Mg/lt – >=6 >3
25 Nikel Mg/lt – 0.5
26 SAR (Sodium Absortion Ratio) Mg/lt – 1.5 – 2.5

Kimia Organik
1 Aldrin dan dieldrin Mg/lt 0.0007 0.017
2 Benzona Mg/lt 0.01
3 Benzo (a) Pyrene Mg/lt 0.00001
4 Chlordane (total isomer) Mg/lt 0.0003
5 Chlordane Mg/lt 0.03 0.003
6 2,4 D Mg/lt 0.10
7 DDT Mg/lt 0.03 0.042 0.002
8 Detergent Mg/lt 0.5
9 1,2 Dichloroethane Mg/lt 0.01
10 1,1 Dichloroethane Mg/lt 0.0003
11 Heptachlor heptachlor epoxide Mg/lt 0.003 0.018
12 Hexachlorobenzene Mg/lt 0.00001
13 Lindane Mg/lt 0.004 0.056
14 Metoxychlor Mg/lt 0.03 0.035
15 Pentachlorophenol Mg/lt 0.01
16 Pestisida total Mg/lt 0.1
17 2,4,6 Trichlorophenol Mg/lt 0.01
18 Zat Organik (KMnO4) Mg/lt 10
19 Endrin Mg/lt – 0.001 0.004
20 Fenol Mg/lt – 0.002 0.001
21 Karbon kloroform ekstrak Mg/lt – 0.05
22 Minyak dan lemak Mg/lt – Nihil 1
23 Organofosfat dan carbanat Mg/lt – 0.1 0.1
24 PCD Mg/lt – Nihil
25 Senyawa aktif biru metilen Mg/lt – 0.5 0.2
26 Toxaphene Mg/lt – 0.005
27 BHC Mg/lt – 0.21

Mikrobiologik
1 Koliform tinja Jml/100ml 0 2000
2 Total koliform Jml/100ml 3 10000

Radioaktivitas
1 Gross Alpha activity Bq/L 0.1 0.1 0.1 0.1
2 Gross Beta activity Bq/L 1.0 1.0 1.0 1.0
Golongan A : air untuk air minum tanpa pengolahan terlebih dahulu
Golongan B : air yang dipakai sebagai bahan baku air minum melalui suatu pengolahan
Golongan C : air untuk perikanan dan peternakan
Golongan D : air untuk pertanian dan usaha perkotaan, industri dan PLTA.

 Data penimbangan
a. Analisis Padatan
Analisis Penimbangan Waktu Berat Rata- rata
TS Pinggan + residu 13.02.2010 94,4906 g 94, 4907 g
13.02.2010 94,4908 g
Pinggan 30.01.2010 94,4802 g 94,4802 g
30.01.2010 94,4802 g
TDS Pinggan + residu 13.02.2010 82,0256 g 82, 0257 g
13.02.2010 82,0257 g
Pinggan 13.02.2010 82, 0193 g 82, 0193 g
13.02.2010 82,0193 g

b. Analisis Senyawa Nitrogen
Tanggal : 30.01.2010 Tanggal : 6.02.2010
Penimbangan : NH4Cl 0,297 g Penimbangan : NaNO2 0,0075 g
Penentuan : Senyawa NH4+ bebas & NH4+ Proteid Penentuan : Senyawa NO2-
B. alat + zat : 18,3271 g B. alat + zat : 19,8949 g
B. alat : 18,0299 g B. alat : 19,8874 g
B. zat : 0,2972 g B. zat : 0,0075 g

Tanggal : 6.02.2010
Penimbangan : NH4Cl 0,0297 g
Penentuan : Senyawa N03-
B. alat + zat : 12,9712 g
B. alat : 12,9415 g
B. zat : 0,0297 g

c. Analisis Ion Logam
Tanggal : 13.02.2010
Penimbangan : FeNH4(SO4)2 0,086 g
Penentuan : Ion Fe2+
B. alat + zat : 20,6292 g
B. alat : 20,5425 g
B. zat : 0,086 g

d. Penimbangan Standar COD
Tanggal : 20.02.2010
Penimbangan : Fe(NH4)2SO4 9,8 g
Penentuan : COD
B. alat + zat : 28,0291 g
B. alat : 18,2300 g
B. zat : 9,7991 g

e. Penimbangan Standar Analisis Zat Organik
Tanggal : 13.02.2010
Penimbangan : H2C2O4 0,38 g
Penentuan : Analisis Zat Organik
B. alat + zat : 20,0627 g
B. alat : 19,6819 g
B. zat : 0,3808 g

 Waktu pengerjaan
Parameter Indikator 23/1 30/1 6/2 13/2 20/2
Fisika Bau, Warna, Rasa
pH
DHL
Turbiditas
Temperatur
Analisis Padatan
• TS
• TDS
• TSS

Kimia Asiditas
Kesadahan
• Total
• Tetap & Sementara
• Ca & Mg

Ion Klorida
Zat Organik
Ion logam
• Mn
• Fe

Analisis Nitrogen
• NH4+ Bebas
• NH4+ Proteid
• NO3-
• NO2-

Analisis Oksigen dalam air
• DO
• COD

 Persiapan Larutan Standar dan Pereaksi
1. Pembuatan Larutan Standar
a. Pembuatan Larutan Standar NH4+ 100 ppm
Prosedur :
1. Sebanyak + 0,2972 g NH4Cl dilarutkan dengan Aqua DM hingga volume 1L, larutan tersebut mengandung 100 ppm NH4+

b. Pembuatan Larutan Standar NO2- 100 ppm
Prosedur :
1. Sebanyak + 0,2463 g NaNO2 kering dilarutkan dengan Aqua DM bebas NO2- hingga volume 1L, kemudian ditambah 1 mL kloroform, larutan tersebut mengandung 100 ppm NO2-

c. Pembuatan Larutan NaOH + 0,1 N
Prosedur :
1. Sebanyak + 4,2 g NaOH padat ditimbang
2. NaOH tersebut kemudian dilarutkan dengan Aqua DM bebas CO2 hingga volume 1 L
3. Larutan kemudian didiamkan semalam sebelum dipergunakan
4. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent plastik
5. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

d. Pembuatan Larutan HCl + 0,1 N
Prosedur :
1. Sebanyak + 8,85 mL HCl pekat diukur dengan gelas ukur
2. Kemudian HCl pekat tersebut diencerkan dengan Aqua DM hingga volume 1 L
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

e. Pembuatan Larutan Standar Fe3+ 100 ppm
Prosedur :
1. Sebanyak + 0,8600 g Fe(NH4(SO4)2).12H2O dilarutkan dengan Aqua DM dalam Labu Ukur 1 L dengan penambahan 25 mL H2SO4 pekat sebelum tanda batas, larutan tersebut mengandung 100 ppm Fe3+

f. Pembuatan Larutan Standar MnO4- 100 ppm
Larutan KMnO4 0,0105 N setara dengan larutan Mn2+ 115,5 ppm, sehingga dapat dipergunakan sebagai standar

g. Pembuatan Larutan EDTA + 0,01 M
Prosedur :
1. Sebanyak + 3,72 g garam Na-EDTA dihidrat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam Aqua DM hingga volume 1 L
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

h. Pembuatan Larutan AgNO3 + 0,025 N
Prosedur :
1. Sebanyak + 4,25 g AgNO3 padat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam Aqua DM bebas klorida hingga volume 1 L
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent gelap
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

i. Pembuatan Larutan KMnO4 + 0,01 N
Prosedur :
1. Sebanyak + 0,316 g KMnO4 padat ditimbang dengan neraca teknis
2. Kemudian dilarutkan dalam 1000 mL Aqua DM
3. Larutan tersebut kemudian dididihkan selama 1 jam
4. Kemudian volume larutan ditepatkan kembali dengan Aqua DM bebas zat Organik
5. Larutan tersebut dipindahlan kedalam botol reagent gelap
6. Kemudian, larutan dihomogenkan dan diberi label
7. Setelahnya, larutan didiamkan selama 3 malam
8. Larutan kemudian disaring dengan kaca masir secara kuantitatif

j. Pembuatan Larutan H2C2O4 + 0,01 N Sebagai Standar Primer
Prosedur :
1. H2C2O4 padat murni ditimbang sebanyak + 0,1575 g pada neraca Analitis
2. Kemudian padatan H2C2O4 tersebut dilarutkan kedalam labu ukur 250 mL
3. Larutan kemudian diencerkan dengan Aqua DM hingga tanda batas
4. Lalu, larutan dihomogenkan dan dipindahkan kedalam botol
reagent kemudian diberi label

k. Pembuatan Larutan Na2S2O3 + 0,025 N
Prosedur :
1. Sebanyak + 6,25 g Na2S2O3.5H2O padat ditimbang dengan neraca teknis
2. Kemudian dilarutkan dalam Aqua DM bebas O2 dan CO2
3. Larutan ini kemudian diencerkan hingga volumenya mencapai 1 Ldengan menggunakan Aqua DM bebas O2 dan CO2
4. Larutan ini lalu dipindahkan kedalam sebuah botol reagent gelap
5. Kedalam larutan tersebut, ditambahkan 0,1 g Na2CO3
6. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label
7. Setelahnya, larutan ini didiamkan selama 1 malam
8. Larutan kemudian disaring dengan kertas saring untuk memisahkan larutan dari pengotor – pengotor yang ada

l. Pembuatan Larutan K2Cr2O7 + 0,1 N Sebagai Standar Prime
Prosedur :
1. K2Cr2O7 padat yang kering dan murni ditimbang sebanyak + 1,225 g pada neraca Analitis
2. Kemudian padatan K2Cr2O7 tersebut dilarutkan kedalam labu ukur 250 mL
3. Larutan kemudian diencerkan dengan Aqua DM hingga tanda batas
4. Lalu, larutan dihomogenkan dan dipindahkan kedalam botol reagent kemudian diberi label

m. Pembuatan Larutan FAS + 0,1 N Sebgai Standar Primer
Prosedur :
1. Sebanyak 9,8 g Ferro Ammonium Sulfat ( (NH4)2SO4.FeSO4.6H2O) p.a ditimbang dengan neraca analitis
2. Kemudian padatan FAS tersebut dilarutkan kedalam labu ukur 250 mL dengan Aqua DM bebas O2 serta H2SO4 4 N
3. Larutan kemudian diencerkan hingga tanda batas
4. Lalu, larutan dihomogenkan dan dipindahkan kedalam botol reagent kemudian diberi label

2.Pembuatan Pereaksi
a.Pembuatan Larutan Pereaksi Nessler
Prosedur :
1. Sebanyak 100 g HgI2 dan 70 g KI dilarutkan dalam 100 mL air bebas NH4+
2. Selain itu, sebanyak 160 g NaOH dilarutkan dalam 500 mL air
3. Kedua larutan tersebut kemudian dicampurkan dan kemudian diencerkan hingga volume 1 L
4. Larutan disimpan dalam botol reagent gelap

b. Pembuatan Larutan Garam Seignette
Prosedur :
1. Sebanyak 100 g garam Rochelle ( K-Na-Tartrat ) dilarutkan dalam 100 mL air
2. Larutan kemudian dididihkan hingga bebas NH4+
3. Kedalam larutan tersebut kemudian ditambahkan 200 mL air bebas NH4+
4. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
5. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

c. Persiapan Larutan HCl pekat
Asam Klorida pekat biasanya dijual secara komersil, dan merupakan larutan seperti air dengan bau khas dan berasap karena adanya penguapan gas Hidrogen Klorida. Berat jenisnya kira – kira 1,19 g/mL dan mengandung 36 % ( w/w ) HCl dengan konsentrasi kira -kira 11,7 M.

d. Pembuatan Larutan NaOH 25 %
Prosedur :
1. Sebanyak + 250 g NaOH padat ditimbang
2. NaOH tersebut kemudian dilarutkan dengan Aqua DM bebas CO2 hingga volume 1 L
3. Larutan kemudian didiamkan semalam sebelum dipergunakan
4. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent plastik
5. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

e. Pembuatan Larutan NaOH 3 N
Prosedur :
1. Sebanyak + 120 g NaOH padat ditimbang
2. NaOH tersebut kemudian dilarutkan dengan Aqua DM bebas CO2 hingga volume 1 L
3. Larutan kemudian didiamkan semalam sebelum dipergunakan
4. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent plastik
5. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

f. Pembuatan Larutan H2SO4 4
Prosedur :
1. Sebanyak 1000 mL Aqua DM diukur dengan menggunakan gelas ukur, lalu sebanyak 500 mL Aqua DM tersebut dimasukan kedalam sebuah gelas kimia
2. Kemudian, ditambahkan sebanyak 125 mL larutan H2SO4 pekat kedalam botol reagent berisi Aqua DM secara perlahan sambil diaduk
3. Larutan kemudian didinginkan pada suhu kamar
4. Larutan yang telah mendingin kemudian dipindahkan kedalam botol reagent
5. Sisa Aqua DM didalam gelas ukur kemudian dimasukan kedalam botol reagent berisi larutan H2SO4
6. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

g. Pembuatan Larutan H2SO4 6 N
Prosedur :
1. Sebanyak 1000 mL Aqua DM diukur dengan menggunakan gelas
ukur, lalu sebanyak 500 mL Aqua DM tersebut dimasukan
kedalam sebuah gelas kimia
2. Kemudian, ditambahkan sebanyak 168 mL larutan H2SO4 pekat
kedalam botol reagent berisi Aqua DM secara perlahan sambil
diaduk
3. Larutan kemudian didinginkan pada suhu kamar
4. Larutan yang telah mendingin kemudian dipindahkan kedalam
botol reagent
5. Sisa Aqua DM didalam gelas ukur kemudian dimasukan kedalam
botol reagent berisi larutan H2SO4
6. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

h. Persiapan Larutan H2SO4 pekat
Asam Sulfat pekat biasanya dijual secara komersil, dan merupakan larutan seperti minyak dan tidak berwarna. Berat jenisnya kira – kira 1,84 g/mL dan mengandung 98 % ( w/w ) H2SO4 dengan konsentrasi kira -kira 18 M.

i. Pembuatan Larutan HNO3 6 N
Prosedur :
1. Sebanyak 37,5 mL HNO3 pekat diukur dengan gelas ukur
2. HNO3 pekat tersebut kemudian diencerkan dengan 50 mL Aqua DM
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

j. Pembuatan Larutan HNO3 8 N
Prosedur :
1. Sebanyak 50 mL HNO3 pekat diukur dengan gelas ukur
2. HNO3 pekat tersebut kemudian diencerkan dengan 50 mL Aqua DM
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

k. Pembuatan Larutan AgNO3 5 %
Prosedur :
1. Sebanyak 5 g AgNO3 padat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam Aqua DM bebas klorida hingga volume 100 mL
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent gelap
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

l. Pembuatan Air Brom Jenuh
Prosedur :
1. Sebanyak 4 g ( atau 1 mL ) Brom cair ditambahkan kedalam 100
mL Aqua DM
2. Brom yang ditambahkan berlebih, dengan adanya Brom yang tak
3. melarut dan tertinggal pada dasar campuran

m. Pembuatan Larutan KSCN 20 %
Prosedur :
1. Sebanyak 20 g KSCN padat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam Aqua DM hingga volume 100 mL
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

n. Pembuatan Larutan Buffer pH 10 Mg-EDTA
Prosedur :
1. Sebanyak 1,179 g garam Na-EDTA dan 0,780 g MgSO4.7H2O dilarutkan dalam 50 mL
2. Larutan ini kemudian diencerkan kedalam Labu Ukur 250 mL yang berisi 16,9 g NH4Cl dan 143 mL NH4OH pekat
3. Larutan disimpan dalam botol reagent plastik bertutup rapat

o. Pembuatan Larutan MnSO4
Prosedur :
1. Sebanyak 400 g MnSO4.2H2O padat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam Aqua DM hingga volume 1 L
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

p. Pembuatan Larutan Alkali – Iodida – Azida
Prosedur :
1. Sebanyak 700 g KOH dilarutkan dalam sedikit air
2. Selain itu, sebanyak 150 g KI dilarutkan pula dalam air
3. Kedua larutan tersebut kemudian dicampurkan dan kemudian diencerkan hingga volume 1 L
4. Kedalam setiap 40 mL larutan tersebut ditambahkan 10 g NaN3
5. Larutan disimpan dalam botol reagent gelap

q. Pembuatan Larutan Indikator Phenolphtalein 0,1 %
Prosedur :
1. Sebanyak 0,1 g Phenolphtakein padat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam 100 mL Alkohol 70 %
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

r. Pembuatan Larutan Indikator Metil Jingga 0,1 %
Prosedur :
1. Sebanyak 0,1 g Metil Jingga padat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam 100 mL Aqua DM
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

s. Pembuatan Indikator EBT 1 %
Prosedur :
1. Sebanyak 0,5 g EBT digerus bersama dengan 50 g NaCl p.a dalam sebuah mortar hingga diperoleh campuran yang homogen

t. Pembuatan Indikator Murexyde 1 %
Prosedur :
1. Sebanyak 0,5 g Murexyde digerus bersama dengan 50 g NaCl p.a dalam sebuah mortar hingga diperoleh campuran yang homogen

u. Pembuatan Larutan Indikator K2CrO4 5 %
Prosedur :
1. Sebanyak 10 g K2CrO4 padat ditimbang
2. Kemudian dilarutkan dalam 100 mL Aqua DM
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

v. Pembuatan Larutan Indikator Amylum 0,2 %
Prosedur :
1. Sebanyak 1 g tepung kanji disusupensikan dalam 25 mL air
2. Kemudian larutan ini dituangkan kedalam 500 mL air yang baru
3. saja berhenti mendidih
4. Larutan diaduk dan dibiarkan mendingin sampai larutan menjadi
5. jernih
6. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
7. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

w. Pembuatan Larutan Indikator Ferroin 0,1 %
Prosedur :
1. Sebanyak 1,485 g o-phenantrolin monohidrat ( C12H8N2.H2O ) dan 0,695 g FeSO4.7H2O dilarutkan dalam Aqua DM
2. larutan tersebut kemudian diencerkan hingga volume 100 mL
3. Larutan tersebut dipindahkan kedalam botol reagent
4. Kemudian larutan dihomogenkan dan diberi label

x. Pembuatan Pereaksi Griez – Romyn
Prosedur :
1. Sebanyak 1 g -Naftilamin, digerus bersama dengan 10 g Asam Sulfonil dan 89 g Asam Tartrat dalam mortar hingga diperoleh campuran yang homogen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: